MOVIE Goers [Lounge Pecinta Dunia Perfilman Dunia]

  • kalo ane biasanya selagi gk sempet nonton di bioskop sih nyari filmnya di internet hhe... tapi bioasanya ane hanya download kualitas bluray supaya asik nontonnya hahaha...

  • Di tahun 2012 lalu, salah satu franchise adaptasi komik superhero tersohor meluncurkan reboot-nya dalam ujud The Amazing Spider-Man, yang meski sedikit terasa kaku masihlah terasa enjoyable demi ditonton. Bisa jadi, hal itu terjadi berkat kiprah seorang sutradara muda, Marc Webb, di balik proses penggarapannya. Tampil dikemas dengan tone yang berbeda, meski dengan plot yang sudah familiar.



    Untungnya, film pertama tersebut masih meraih antusiasme, baik secara internal mau pun eksternal. Pun dengan amat bertalentanya Andrew Garfield dengan Emma Stone demi saling menghangatkan chemistry di antara mereka berdua. Kelemahan-kelemahan yang muncul pun jadi sedikit tertutupi. Diprediksi bahwa film itu lemah akibat dibebani oleh kisah asal-usul, yang harus kembali diusungnya.


    Dengan telah diceritakannya awal mula Spidey dan makin berkembangnya kemampuan Webb dalam profesinya sebagai seorang filmmaker, seharusnya franchise tersebut bakal lebih bebas melenggang pada film kedua menuju arah yang benar-benar baru dan berbeda. Dan, tibalah kita di saat ini, awal Mei 2014. Apakah kekhawatiran kita telah terjawab? Atau hype yang besar telah membutakan kita?



    Film dibuka dengan sebuah sekuens flashback yang bernuansa kejar-kejaran, melibatkan orang tua dari Peter Parker, yaitu Richard (Campbell Scott) dan Mary (Embeth Davidtz), dalam kisah spionase industrial hingga berakhir pada rentetan aksi laga di sebuah pesawat. Jalan cerita pun berubah dari situ menuju masa kini, yang sepertinya ber-setting waktu tak terlalu jauh dari akhir film pertamanya.


    Layaknya kisah-kisah superhero yang cenderung membumi, Peter sangat kompeten sebagai Spider-Man namun kehidupan pribadinya cukup berantakan. Hubungannya dengan Bibi May (Sally Field) tampak menegang, dan kisah kasihnya dengan Gwen Stacy (Emma Stone) berkesan di ujung tanduk, yang terjadi berkat rasa salah Peter atas sebuah janji kepada mendiang ayah Gwen (Denis Leary).


    Sembari menutupi identitasnya, Peter sebagai Spider-Man tetaplah menjadi pahlawan bagi warga New York. Saat menghentikan aksi kejahatan dari seorang gangster asal Rusia yang bernama Aleksei Sytsevich (Paul Giamatti), dia menyelamatkan Max Dillon (Jamie Foxx), seorang teknisi listrik Oscorp yang selalu merasa dikucilkan. Tindakan Spidey membuat dia jadi tergila-gila dan mengidolakannya.


    Tragisnya, di sebuah akhir hari kerja yang menyebalkan, Max mengalami kecelakaan yang mengubah dirinya menjadi Electro, sesosok super villain yang dialiri listrik hidup sekaligus kemarahan yang amat besar. Memperparah situasi, seorang teman dari masa kecilnya Peter, Harry Osborn (Dane DeHaan) kembali untuk menjumpai ayahnya yang sekarat, sang CEO Oscorp, Norman Osborn (Chris Cooper).


    Sang ayah mengungkap dua warisan yang akan mengubah hidup Harry, yaitu usaha keluarga mereka dan kekurangan genetis yang kini akan membunuhnya secara perlahan. Spontan, Harry memutuskan bahwa dia harus mendapatkan sampel darah Spider-Man untuk tetap hidup, dan melakukan langkah apa pun untuk itu. Tambahkan semua tadi dengan perburuan Peter atas fakta terkait orang tuanya.


    Juga, sebuah subplot menyoal perebutan kekuasaan secara internal atas Oscorp yang sebenarnya tak seberapa penting. Terlalu banyak fokus. Sementara jika semua hal tadi dibuang, sekuens-sekuens laganya yang cenderung kurang tapi dibuat terlalu meledak-ledak pun lebih dipadatkan, maka kita akan mendapati plot yang terbilang tipis dan seperti meraba-raba akan ke mana semuanya dibawa.


    Terkadang kita pun bisa merasakan sedikitnya keterhubungan cerita yang ada. Semua terasa seperti sederet kebetulan, yang tampak digampangkan. Lebih buruknya lagi, semua upaya yang dilakukan di dalam film ini adalah persiapan untuk membangun film-film selanjutnya, yang tak begitu dibangun atau pun dieksplor. Layaknya sebuah langkah yang terburu-buru demi menggapai yang lebih besar.


    Webb dan para penulis skripnya, Alex Kurtzman, Roberto Orci, dan Jeff Pinkner, sepertinya terlalu sibuk melihat jauh ke depan, yaitu rencana besar Sony yang belum terbukti kekuatannya (terdiri atas dua sekuel dan dua film spin-off), hingga tak terfokus dengan apa yang tepat berada di hadapan mereka. Jadinya, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro terbebani dengan begitu banyak klise.


    Banyak hal yang ditampilkan, tapi sangat sedikit yang benar-benar menjadi langkah maju. Meski begitu, Garfield tetaplah mampu menghidupi Peter mau pun Spider-Man dengan alami, dan sekali lagi, chemistry antara dirinya dengan sang kekasih asli di luar film, Stone, makin menguat. DeHaan juga kuat dalam memaparkan kompleksitas. Meski terlalu cepat, kejatuhan Harry tampak natural.


    Menjadi subjudul di berbagai rilisan internasional, Foxx sepertinya direpotkan dengan karakterisasi Max, yang terasa sedikit mirip dengan Jim Carrey kala memerani Edward Nygma di Batman Forever. Untungnya, tak seperti aktor itu saat berubah menjadi Riddler, Foxx menghidupi Electro dengan cita rasa yang berbeda. Menggigit dengan kesan balas dendam yang dingin dan rasa haus akan kekuatan.


    Kehadiran Giamatti yang terasa seperti cameo dimaksudkan untuk untuk penampilannya sebagai Rhino dan membangun jalan menuju arc Sinister Six, yang jika dipikir-pikir adalah sebuah tindakan yang terbilang mubazir. Pada akhirnya, sekuel ini jadi terasa seperti upaya eksperimen untuk melihat mana yang berhasil dan tidak. That feels far less than amazing. Semoga berikutnya lebih baik. (HKD)


    VGI Rates B


    Sutradara: Marc Webb
    Penulis: Alex Kurtzman, Roberto Orci, Jeff Pinkner
    Produser: Avi Arad, Matt Tolmach
    Pemain: Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx, Dane DeHaan, Campbell Scott, Embeth Davidtz, Colm Feore, Paul Giamatti, Sally Field, Felicity Jones, B.J. Novak, Martin Csokas
    Studio: Marvel Entertainment
    Distributor: Columbia Pictures, Sony Pictures
    Genre: Superhero
    Durasi: 142 menit


    sumber : VGI
    [hr]
    ROBOCOP 2014 Web-DL
    yang belum nonton bisa download dari salah satu link dibawah


    Seputaran Banjarbaru - Martapura | Warga KST (Kalimantan Selatan dan Tengah) Mohon Absen DISINI

    The post was edited 1 time, last by Dedy_Sulistianto ().

  • Web DL itu apa ya.. Ha ha.. Itu film dirilis di web tertentu yang bisa ditonton secara streaming.. Jadi tentu aja kualitas nya masih dibawah BBrip, Mgkn bisa dibilang setara dvd rip

    Seputaran Banjarbaru - Martapura | Warga KST (Kalimantan Selatan dan Tengah) Mohon Absen DISINI

    The post was edited 1 time, last by Dedy_Sulistianto ().

  • Pecinta film saatnya ke bioskop.. Banyak film bagus menanti.. Atau siapkan quota internet yg banyak.. Siap2 sedoootttt.. Nanti kl ada film yg bagus saya share link nya dimari

    Seputaran Banjarbaru - Martapura | Warga KST (Kalimantan Selatan dan Tengah) Mohon Absen DISINI